NGAMEN SEMUT… !!!

Standard

Mata saya mulai terbuka, mengerjap-ngerjap sebentar dan seperti biasa secara otomatis tangan ini mulai mencari-cari Hand Phone di sekitar tubuh saya seperti radar pendeteksi. Okey, ini dia… benda ini tak mungkin jauh dari saya..

Hmm.. Hhhuuuuuaaaaa ?? Jam setengah 5?? Kok bisa??

Seingat saya, saya telah mengatur alarm HP 1 jam lebih awal, memangnya tidak berbunyi? HP nya saja tergeletak tepat di dekat telinga saya… Tapi setelah saya cek, ya pantas saja. Saya mengatur alarm agar berbunyi pada jam 03.30 bukan 15.30 hahhahahahaa. Maklum, mengaturnya dengan mata 5 watt, dan otak dalam proses turn off. xP

Hari ini TIM PENA berencana untuk mencari dana dengan cara mengamen di Muara Karang. Kami memutuskan untuk bertemu di Atmajaya hari ini pukul 5 sore, sedangkan saya baru bangun jam 16.30. And just for information, rumah saya yang indah dan nyaman ini berada di daerah Ciputat yang permai, jaya dan bersahaja. Jadi, saya mulai membuang-buang waktu saya yang sangat sempit dengan bertanya pada diri sendiri, ”Kira-kira saya akan sampai jam berapa ya?”.

Saya memutuskan akan menuju Atmajaya dengan menggunakan jasa abang ojeg yang gesit-gesit dan ulet itu agar dapat sampai dengan cepat. Setelah saya menyebutkan tujuan saya, abang ojeg segera menyuguhi saya sebuah benda berbentuk setengah bola yang sudah tidak bisa dibilang bulat lagi. Saya seketika merasa buta warna ketika melihat benda itu, karena saking lusuhnya, saya tidak bisa menentukan warna apa gerangan dirinya. Benda ini tidak memiliki tali apa pun dan dipinggir bulatannya terdapat sisi yang sudah ’gompal’ sana sini seperti digigit tikus (tikus yang sangat besar, bahkan TIKUS RAKSASA). Okey, akhirnya saya membuat keputusan untuk meng-”iman”-i benda itu sebagai ”HELM” dan meletakkannya di atas kepala saya yang baru beberapa jam lalu saya keramas T_T.

Pukul 17.30, saya akhirnya dapat sampai di pelataran Atmajaya dengan kaki gemetar dan punggung yang senut-senut tak karuan. Rambut saya yang menahan nafas sepanjang perjalanan tadi sekarang mulai mencuat-cuat keluar seakan sedang menyambut udara bebas ”non-aroma helm abang ojeg”. Perut saya yang lapar juga tidak membuat keadaan menjadi lebih baik. Saya memberi si abang ojeg pemilik helm (helmnya diperjelas hahhaa) beberapa lembar kertas uang yang berjumlah Rp 30.000,00. Ah, padahal jika ’si pakde’, abang ojeg langganan yang selalu punya helm bagus dan manusiawi (lagi-lagi helm diperjelas) tidak sedang beroperasi di Blom M, saya hanya cukup membayar Rp 25.000,00 lagi-lagi dengan helm yang gaya.

Singkat cerita, kami akhirnya berangkat ke kawasan Muara Karang menggunakan mobil milik kekasih mely, salah satu anggota TIM PENA. Wah, enaknya punya pacar yang bisa diandalkan dan selalu siap sedia membantu seperti ini (iri sesaat.. okey, dua saat lah hahahaha). Setelah menyelesaikan sekelumit acara tersesat, bertanya dengan abang-abang di pinggir jalan, telepon sana sini (@mas kunci: anda menelepon disaat yang tepat, walaupun kurang membantu hahaha.. @Abira: tempatnya emang deket kampus lu tuh di Atmajaya Pluit, tengkyu clue-nya, sukses yah TOPODADE, loh?? ), akhirnya kami sampai juga di Muara Karang.

Jreeeng… !! begitu kira-kira suara petikan gitar yang dikumandangkan oleh mas Ray yang adalah teman dari pacarnya Mely yang bikin saya iri dua saat tadi (hahhaha). Kami berlatih semua lagu yang kira-kira dapat kami bawakan dengan keterbatasan suara dan gitar kami ini. Dari lagu yang memiliki lirik ”Jangan lelah, bekerja di ladangnya Tuhan, Roh Kudus yang b’ri kekuatan….’ sampai kepada lagu yang berkata ”Betapa nikmatnya dicumbu asmara, bagai embun pagi, yang menyentuh rerumputan” Oke, oke, lagu kedua tampaknya yang paling pas dengan kondisi jalanan ini hahhaha. Cintaku – Chrisye akhirnya kami lantunkan di tiap-tiap tenda.

Sampailah kami di sebuah tempat makan bertenda biru. Setelah meminta ijin sang pemilik tenda untuk mengamen, Mely lalu memperkenalkan diri kami pada Sang Pemirsa Tenda Biru. ”Kami TIM Pendampingan Anak Jalanan dari Fakultas Psikologi Atmajaya sedang berusaha mencari dana untuk acara kami bersama anak jalanan, mohon partisipasinya”. Jreeeeengg… !! Mas Ray tanpa basa basi langsung mencuri start dan memetik gitarnya. ”Aku jalin laguuuu… bingkisan kalbukuuuu… duh duh duh” suara ku tercekat, aku merasakan sakit luar biasa. Ada sesuatu yang mengerikan di kaki ku, mereka menggerogoti kaki dan jari-jariku yang tidak berdosa, apa yang mereka lakukan??

Tidaaaaaak… tolooooong..

Seperti seorang Paskibraka yang baru saja mendengar aba-aba tegas dari sang pemimpin barisannya, saya mulai mengangkat kaki kanan dan melakukan gerakan ”jalan di tempat” dengan cepat. Ketika saya melihat ke bawah, betapa terkejutnya, saya melihat mereka ada ratusan, mungkin malah ribuan! Semut-semut hitam yang luarbiasa besar, sebagian dari mereka malah memiliki sayap! Aaaahhhhhhhh….

Saya berusaha untuk mempertahankan ekspresi wajah senormal mungkin sambil bernyanyi dan tidak mengacaukan lagu yang sedang dibawakan. Bersamaan dengan gerakan jalan di tempat ini, dalam hati saya tidak dapat berhenti berhitung.

Satu.. dua..

Pergiiiii….. sanaaaaa..

Satu.. dua..

Pergiiiii….. sanaaaaa..

Ketika sedang berkonsentrasi pada hitungan ’jalan di tempat’, saya mulai menyadari bahwa teman-teman yang lain pun sedang melakukan pergerakan yang sama. Musibah yang sama membuat wajah mereka warna-warni, melakukan jalan di tempat dengan hitungan yang tidak sama dan tidak serentak. Hanya Gani dan Mas Ray saja yang tampaknya ’enjoy’ dengan lagu yang mereka nyanyikan sambil sesekali melihat pergerakan kami dengan wajah yang heran.

Saya merasa takjub pada mereka. Waw, Mas Ray dan Gina adalah manusia berkulit badak. Namun setelah saya melihat ke arah kaki mereka, saya mengurungkan niat untuk mulai memikirkan usul pelestarian dan perlindungan yang harus mereka jalani di Ujung Kulon. Ternyata mereka bedua mengenakan sepatu, jelas saja mereka tidak merasakan apa-apa”.

Setelah menyelesaikan tugas untuk mengedarkan kotak sumbangan ke sekeliling Tenda biru (masih dengan gerakan jalan di tempat dan dengan hitungan yang sama). Kami keluar dari tempat makan itu dengan muka masam sambil terus menggaruk-garuk kaki, melemparkan dan membunuh tanpa ampun mahluk-mahluk bersayap yang masih tersisa di kaki kami. Tenda biru itu mengingatkan saya pada sebuah lagu yang dinyanyikan oleh mba Desy Ratnasari yang sekarang ini sedang mengambil program magister di Psikologi Atmajaya (dan terus kenapa keterangan ini dianggap penting untuk ditulis???). Muramnya lagu Tenda Biru, semuram hati kami ketika keluar dari Tempat Makan Tenda Biru itu.

Jrang.. !! Jreng.. !! Jrang.. !! Jreng.. !! berulang kali kami menyanyikan lagu yang sama, sampai-sampai kami tak perlu melihat teks lagu lagi karena sudah hafal. Setelah sekitar satu jam menyanyi dan hilir mudik sana sini (terkadang masih sambil menggaruk bentolan hasil karya si semut), kami memutuskan untuk pulang. Lelah campur gatal di kaki mewarnai perjalanan pulang. Ajakan dari mas kunci untuk bergabung di Le Bridge Ancol setelah dirinya selesai wara wiri di wahana Dufan (yang sukses membuat saya iri) pun tak mungkin terpenuhi.

Kami mulai menghitung hasil jerih payah kami. Saya menghitung dan mengumumkan jumlahnya dengan lantang, yang seharusnya dengan berbisik pun sudah cukup jelas terdengar oleh seisi mobil (biasa, lebay). Rasa lega menyelimuti hati ketika memasukkan uang itu ke dalam amplop coklat. Ah, akhirnya selesai juga. Di tengah musik dugem yang diputar di dalam mobil, saya memberi kabar pada Mas Bani tentang jumlah uang yang kami kumpulkan sekarang. Lalu dia berkata, ”all that time for 500k?” hahhahaa. Ini saya antara mau ketawa atau marah. Kan udah usaha Ban, kenapa sih? Tapi setelah saya menelaah kembali tentang latar belakang yang bersangkutan, yaiyalah, back home, buat dia itu hanya cukup untuk parkir seminggu di mall paling bergengsi di tanah kelahirannya sana. Saya berfikir apa jadinya kalau saya mengajaknya ngamen seperti tadi? Hahaha. Tapi seperti apa yang dia bilang, pria tidak seharusnya menyanyi dan menari, apa pun itu bentuknya, oke deh ma men! Hhahaha.. Biarkan saja, Alhasil, saya membiarkan dia bengong di apartemen mewahnya itu. Setelah pulang pun saya mengurungkan niat untuk mengajaknya ikut makan bersama kami di Blok M karena dia dengan sangat nekat telah mengatai saya gendut karena makan malam! padahal saya tahu dia pasti sedang lapar juga saat itu! (ditambah lagi saya bosan karena sudah melihat rupanya seharian kemarin) Hahhahaha! Lagi pula, memangnya siapa yang lebih gendut coba?? (dengan nada tersinggung). Dasar gendut kau, genduuuuuuut!! (bebas mencemooh selagi dirinya tak mengerti hahahhaa..).

Saya kira urusan saya dengan semut-semut itu sudah beres ketika saya mengusirnya dari jari-jari saya yang mungil. Saya kira malam ini akan berakhir dengan kedamaian di atas tempat tidurkuyang nyaman. Tapi entah kenapa, sampai pada waktu tidur pun, saya tak berhenti merasa gatal dan menggaruk-garuk bekas sengatannya di kaki saya.

Semuuuuuuuuuuuuttttttttt Bandeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeel.. !!!! Sebeeeeeeeeeeeeeeeeeeelll !!!!

Advertisements

4 responses »

  1. mutt..muttt, semuuutttt…ya baguslah loe dikerubutin, berarti loe kan manis (barusan gue ngomong apa??!??!??) ah, tau gitu…gue nitip udang saos tiram dari sono. hehehe…cukup menghibur gue yg lg sakit ternungging-nungging, akhirnya malah tambah sakit perut karena ketawa ternungging-nungging juga.

    • aduh, maaf deh pe, gw ga tau posisi lu lagi gak enak gitu.. Aturan gw warning dulu sebelum lu baca hahhaa..
      Ey, gimana ini persentasi kita pe? belom ada kabar dari si bos hehe..

    • Jangan sebut semut yam, sensitif niy, masih gatel kaki gw ampe sekarang!! hahhahaha..
      emg knp siy klo gw panggil bani yam? gw ga tau mau manggil dia apa lagi hahaha..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s