Personality Test di Rumah Duka

Standard

Ah, leganya hari ini… Data subyek akhirnya sudah di tangan, dan betapa ikhlasnya saya melepas alat-alat tes itu untuk dikembalikan ke tangan si Ibu Dosen yang amat tidak sombong dan baik hati ini. Saya teringat sehari sebelumnya saya harus mengitari daerah Pluit untuk melaksanakan dan menyukseskan konspirasi saya dengan Pepita, konspirasi yang dapat membunuh kami (Pepita, ini rahasia seumur hidup kita!!hahahahaa). Pengambilan data dilaksanakan di salah satu ruangan kecil di tepi lorong rumah sakit yang temaram. Ruangan tersebut merupakan sebuah ruangan, lebih menyerupai gudang yang berbatasan langsung dengan taman. Di dalam ruangan tersebut terdapat beberapa tempat tidur rumah sakit yang sudah lesu karena usia. Ketika menatap kasur itu, saya dapat merasakan dia berbicara di dalam kepala saya. Dia bercerita tentang berapa banyak dan parahnya kondisi pasien yang sudah menidurinya. Kematian pun telah jatuh berkali-kali dalam pelukannya. Ya, dia tua sebelum waktunya.

Hawa pengap menguasai ruangan, terlalu banyak roh yang bedesak-desakan di udara ini.

”Mari kita mulai tesnya..”

”Boleh ngerokok gak?”

”Gak boleh, konsentrasi aja dulu ya, biar kita bisa cepat selesai dan hasilnya juga valid.”

”Okey bos.”

Saya memandang manusia yang sedang mengerjakan Tes MMPI di depan saya ini. Seorang yang bisa dibilang sahabat yang akan selalu siaga siap sedia, seperti salah satu semboyan Posyandu (Loh kok Posyandu? bener gak sih? Ngaco ya? Hahha).

Perjalanan dan bagaimana dia menjalani perjalanan hidupnya menjadi guru kehidupan bagi saya. Sungguh, hidup ini mudah sangat mudah jika kita tahu bahwa keriaan adalah cara paling efektif dalam mengimani pengharapan dari Sang Pemberi Hidup. Maka itu, keriaan adalah judul kebersamaan kami =).

”Buset, banyak amat ya ni tes, gileee.. ”

”hahahhaa, sabar pak..” hibur saya, padahal saya pun sebenarnya agak tidak tega melihat titik-titik peluh di atas keningnya.

Sementara Rocky bekerja, mata saya menerawang menyusuri setiap sudut ruangan. Pikiran saya mengintrogasi setiap barang yang tertangkap mata. Tak ada yang selamat dari tatapan ini, menunggu berjam-jam memang sama sekali bukan kegemaran saya.

Ketika pikiran saya asyik mengintrogasi sebuah keranjang sampah yang tampak ketakutan, tiba-tiba sebuah getaran merambat di tangan saya. Papiru bergetar, menandai adanya sms masuk. ”How’s everything going ??” dengan tanda tanya double dan triplenya yang khas. Entah mengapa pesan singkat itu meneteskan setitik, ya setitik ketentraman yang memecah kebosanan. Dalam hati saya berkata, akhirnya ada kerjaan yang lebih penting daripada mengintrogasi tong sampah lusuh yaitu membalas smsnya. Sekarang detik-detik berjalan lebih cepat, dari lari-lari kecil menjadi lari sprint. Saling memberitahukan keadaan dan tidak lupa melemparkan cemoohan andalan tentang lemak siapa yang paling banyak setelah makan malam nanti dan makanan apa yang akan dimakan untuk menyukseskannya (hahahahaa gak penting…)

Tiba-tiba saja Rocky selesai mengerjakan test-nya.

Ahhhhhhh.. akhirnya.

”udah semua kan testnya?’ ujar Rocky

”Belom Ki hahhaha…”

“Busetttt…”

”Ahahahahaaa, tenang boy ini bentar doang, cuma gambar-gambar doang” ujar saya seraya mengambil selembar ketas A4 dan menaruhnya di depan Rocky.

Berbeda dengan raut wajahnya ketika menjawab test MMPI atau NEO PI-R, Rocky terlihat asyik menggambar.

            Setelah semua perangkat tes telah diadministrasikan kami pun bergegas pulang. Ketika sampai di pelataran parkir Rumah Duka, saya mencium bau yang menyengat.

”Ky, ini bau apaan siy?”

“Ya, ini kan di sebelah ruang anatomi, bau formalin paling”

”Serius lo?” ujar saya. Seketika bulu roma serasa berdiri membayangkan benda-benda apa yang sedang diformalin di ruangan itu.

”Emang bau formalin kaya gini ya? Busuk amat, kuat lo nyiumnya tiap hari”

”Hmmmm…” Ricky mengkerutkan dahinya, terlihat berfikir, dan dengan ragu mengendus-endus udara.

”Bego, ini mah bukan bau formalin, ini bau bangke tikus!!!”

“Mmmuahahahaa, tikus kegencet ini mah, pantesan baunya tak asing lagi, secara tiap hari gue lewat Pasar Ciputat ahahahahahahaha…..“

Kami pun berpisah, merajut dua cerita yang berbeda. Diriku akan menuju peraduan yang tenang dan empuk, sementara dirinya akan bergelut dengan laptop, kertas-kertas, dan tugas yang menumpuk. Inikah yang namanya perbedaan nasib (lebay). Katakan saja ini simply akibat perbedaan jurusan. Hohoho..

Saya lalu menggapai Papiru dari tas saya, membaca sms masuk dan membalasnya. ”Its good, i’m going home now…”

Home sweet home..

Advertisements

2 responses »

    • Hahaha, iya ini klo banyak komen taruhannya nyawa hahaha.. BEJIBUN PE, tikus kegencet mah.. segala sesuatu yang kegencet ada semua di sini hahahha..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s