Sampek Engtay 2010

Standard

(KOLABORASI TEATER KOMA DAN UNIKA ATMAJAYA)

Malam itu gemuruh di langit, ombak di pantai. Namun darat kan segera terbenam pasang, akan kah ada pilihan lain kecuali mengayuh rakit dengan tenang. Kematian pun bukan masalah jika harapan dan persahabatan saling memeluk erat. Kecintaan pada layar tak kan surut karena buih-buih asin yang menodainya. Esok hari, akan ada samudra yang lebih tenang dan kapal yang lebih kokoh. Harapan memberi ruang dan waktu pada rumput yang masih hijau. Hari ini adalah sukacita menerjang badai, adrenalin menantang ketidaktahuan dan tentu saja desir sihir kerajaan panggung yang menguasai lidah dan laku.

Kira-kira hal itu lah yang menyimpulkan perasaan saya pada saat itu. Pada bunyi gong 3 sebelum pemusik memulai intro lagu pembukaannya. Beribu kata yang dipenjara secara paksa dalam benak seakan berhamburan menggapai kebebasan. Sudah lah, tak perlu repot menangkap-nangkap mereka. Aku menyerahkan diri pada panggung hitam itu, berdoa pada Khalik agar dia mau berdamai dengan ku.

Drum dum dum dum dum dumd um… Tabuhan genderang terdengar, tadinya saya kira bunyi itu berasal dari degup jantung. Segera ketika saya menyadari bahwa bukan si jantung pelakunya karena ternyata dia dengan kurang ajarnya sedang tertidur pulas (dasar penghianat!), kedua kaki saya tiba-tiba sudah berlari ke tengah panggung. Aduh ada apa dengan tubuh ini yang bergerak masing-masing seakan tidak berasal dari kepala yang sama. Namun kembali ditengah usaha saya untuk menyadarkan mereka sebuah gelombang tiba-tiba keluar dari rongga tenggorokan. Tangan kanan dan kiri menyatu dan tergenggam seraya terangkat di atas dada, seketika tak hanya gelombang itu yang berhamburan dari rongga tenggorokan saya, gelombang-gelombang lain terhampar berserakan, sebagian dari mereka masuk ke telinga saya.

Pembukaan

“Manusia, waktu hidup lemah lemas…. Begitu mati kaku dan keras…. Semua benda, waktu hidup lemah lemas…. Begitu mati kering dan getas…. Jadi…. Kaku keras, sahabat kematian…. lemah lemas, teman kehidupan…. Maka…. Senjata keras cepat rusak, kayu keras mudah patah, jangan heran…. Kaku dan keras ada di bawah…. lemah dan lemas di atasnya….”

“Huahahahahhahahahhahahahhahahahahahaa” Suara dalang memecah gelombang-gelombang yang berbaris beraturan itu, setiap orang di atas panggung pun berhamburan, lari sembunyi ke balik layar.

Tersebutlah Engtay, putri semata wayang keluarga Ciok yang tinggal di Serang. Engtay berniat pergi sekolah ke Betawi. Sayangnya, pada masa itu sekolah hanya diperuntukkan bagi kaum lelaki saja. Perempuan hanya diwajibkan mengurus perkara rumah tangga. Tapi niat Engtay untuk bersekolah tak kunjung surut, dia ingin menuntut ilmu setinggi langit. Dia meratapi nasib para perempuan yang hidup tanpa kebebasan dengan pemikiran yang terpenjara.

“Dan perempuan… Sunguh jelek nasibnya, dilahirkan… Masa depan cuma penjara, rumah tangga, jodoh di pelaminan bukan kita yang menentukan… Pernikahan, bagai belenggu takdir… Kacamata kuda, memandang hanya ke depan… Tak boleh, membaca buku… Wajib membatasi perilaku… Pergaulan amat sangat tabu… Apalagi pergi menuntut ilmu… Tapi tekad bulat sudah… Aku wajib masuk sekolah… Menabung bekal berharga… Jika suami jelek adatnya…”

Suhiang, pelayan pribadi Engtay, menangkap kesedihan majikannya. Suhiang merasa sedih karena dirinya tidak bisa menghibur Engtay yang sedang dirundung kemurungan itu. Suhiang lalu mencetuskan sebuah ide membantu Engtay agar dapat pergi ke Betawi untuk sekolah. Suhiang mengarang cerita bahwa Ayah Engtay pernah berjanji akan mengizinkan Engtay pergi ke Betawi jika Engtay berhasil menipunya. Suhiang mengusulkan agar Engtay menunjukkan keahlian menyamarnya sebagai lelaki untuk menipu ayahnya.

Bagai melihat sinar mentari pertama di pagi hari, wajah Engtay yang tadinya penuh kesedihan pun berganti dengan harapan. Engtay memutuskan untuk menyamar menjadi seorang penagih hutang. Dalang membantu Engtay menyempurnakan kedok penyamarannya.

Setelah merasa penampilan dan suaranya sudah cukup meyakinkan, lakon penagih hutang pun dimulai. Engtay berjalan ke rumahnya dengan lagak lelaki yang berwibawa. Alhasil, semua keluarganya tertipu tak terkecuali pengasuhnya sejak bayi yaitu Jinsim, yang bahkan sempat diancamnya akan dijebloskan ke dalam penjara jika Jinsim banyak omong.

Keluarga Ciok (Keluarga Engtay) sangat terkejut ketika seorang penagih hutang datang untuk mengajukan perkara hutang Ciok terhadap Kapten Liong dari Rangkasbitung. Ciok berkali-kali menjelaskan dan meyakinkan penagih hutang bahwa dirinya tidak pernah berniat melanggar hukum karena lima tahun lalu Kapten Liong sendiri yang telah membebaskan hutang-hutang Ciok tersebut.

Sang penagih hutang seakan tidak mau tahu dan menganggap semua pernyataan Ciok sebagai dalil saja, segera dia keluarkan surat perintah dari Landraad dan menyatakan bahwa seisi rumah keluarga Ciok akan disita.

Seisi rumah panik, Ciok ketakutan.. “Ya Tuhanku. Ini apa? Disita? Aduh…”  Ciok lalu pingsan mendadak. Nyonya Ciok, Jinsim dan Antong (bujang keluarga Ciok) sangat panik dan berusaha menyadarkan Ciok. Bukan hanya mereka, Engtay pun sangat panik, dia tidak menyangka ulahnya akan membuat Ayahnya pingsan.

“Ayaaaaahhhh…” Engtay pun berusaha menyadarkan Ciok.

Semua mata kini menuju kepada Engtay, terlebih Nyonya Ciok. Sembari mencopot kacamata, topi dan kumis palsu, Engtay membuka penyamarannya dan mengaku bahwa dia bukan penagih hutang. Tak lama Ciok siuman dan masih mengigau tentang rumahnya yang disita sampai akhirnya dia menyadari kehadiran Engtay. Engtay segera mengakui perbuatannya. Ciok sangat marah… “Kamu? kamu? Ooo, anak kurang ajar…”

Jinsim dan Antong berusaha untuk menahan kemarahan Ciok, sementara Ibu langsung memeluk Engtay. Suhiang dengan sigap memotong langkah Ciok dan mengingatkannya bahwa hal ini akibat janji Ciok yang akan mengizinkan Engtay sekolah jika Engtay berhasil menipu Ciok. Ciok heran, dia tidak ingat dirinya pernah berkata begitu, tapi Suhiang meyakinkan kalau hal itu benar. Ciok dengan kemarahan lalu masuk ke dalam rumah. Ibu segera menyuruh Engtay untuk menyusul ayahnya dan meminta maaf. Dalam hati Nyonya Ciok sangat terkesan dengan kepintaran dan keberanian anak semata wayangnya itu.

Ciok tetap bersikukuh Engtay tidak boleh pergi sekolah sementara Engtay tetap bersikukuh untuk pergi sekolah. Hal ini menciptakan ketegangan di keluarga Ciok. Nyonya Ciok berkali-kali menasihati Engtay… “Sekolah. Untuk apa? Perempuan ibarat bangau, setinggi-tinggi terbang akhirnya jatuh ke pelukan suami juga. Mengemong anak, sibuk di dapur, mengurusi perut dan syahwat suami.” Tapi Engtay punya pendapat lain, tekadnya sudah bulat. Nyonya Ciok mengambil akal lain untuk menakut-nakuti Engtay… “Mana kamu bisa tahan? Berapa lama? Pasti mereka akan tahu juga kalau kamu itu lelaki jadi-jadian, lalu mereka akan kurang ajar. Apa daya kamu?” Diluar dugaan Engtay justru dengan semangat menjawab tantangan Nyonya Ciok.

Engtay lalu merubah penampilan menyerupai pria seutuhnya, lengkap dengan kostum, gaya berjalan dan suara rendah yang tidak dikenali ayah dan ibunya. Semuanya terkagum-kagum, namun Ciok segera mengubur rasa kekagumannya itu dan tetap tidak mengizinkan Engtay. Engtay membujuk dan berjanji, tapi Ciok tetap tak setuju.

Engtay yang sudah putus asa lalu mengeluarkan senjata terakhirnya yaitu: MENANGIS. Engtay pura-pura menangis sejadi-jadinya, Suhiang mendukung dengan tangisan yang tidak kalah keras. Melihat hal itu, Jinsim, Antong terlebih nyonya Ciok ikut-ikutan menangis. Nyonya Ciok yang tak tega pun segera mengiyakan permintaan Engtay. Ciok panik dan bingung, tapi tidak mungkin dia melawan keputusan istri yang selalu diikutinya itu. Akhirnya, Ciok pun setuju.

 

Advertisements

2 responses »

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s